Jumat, 27 Maret 2009

IKLAN – KAMPANYE

Iklan adalah sebuah sarana paling ampuh untuk memikat konsumen, walaupun dengan biaya yang mahal. Setiap hari serbuan iklan melanda ke dalam setiap rumah kita, lewat berbagai media masa.

Berdasarkan data dari Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) bahwa belanja iklan secara kotor mencapai Rp 37 trilian setiap tahun. Data AC Nielsen menyebutkan belanja iklan di media massa Indonesia pada semester pertama tahun 2008 mencapai Rp 19,56 triliun naik 24% dari tahun 2007.

Minat partai politik untuk beriklan pada era sekarang ini sangat marak. Iklan menjadi salah satu mesin politik melalui strategi marketing yang tepat. Kasus di Amerika bisa menjadi contoh, kampanye George W Bush pada 1992 yang incubent kala itu, memutar iklan yang mengeksploitasi peristiwa 11 Septe mber 2001. Dalam spot iklan 30 detik seharga $ 4.5 juta, Bush mengatakan, AS akan ambruk jika tak punya pemimpin yang kuat. Iklan diakhiri dengan tulisan Safer, Stronger, President Bush, Steady Leadership in Time of Change

Di Indonesia Megawati memasang iklan dengan janji menurunkan sembako dalam masa 100 hari kepemimpinnya nanti. Partai Keadilan Sejahtera memasang foto mantan presiden Soeharto sebagai salah seorang guru bangsa. Partai Hanura mencuri simpati rakyat dengan mengekspose kegagalan pemerintah dalam mengatasi angka kemiskinan dan pengangguran. Partai baru yang muncul Gerindra, sukses menjual “kemiskinan” ekonomi petani dan nelayan.

Lembaga Survei Indonesia mencatat Gerindra yang paling gencar beriklan di televisi berhasil mengusung nama Prabowo Subianto dalam deretan empat besar capres sebesar 4% setelah Susilo Bambang Yudoyono (32%), Megawati (24%), dan Wiranto (6%).

Apakah dengan dana iklan yang besar itu bisa mengantar mereka ke kursi presiden.... belum pasti. Tetapi kampanye presiden melalui media massa, terutama televisi diyakini sebagai media paling ampuh menjangkau lapisan masyarakat.

Kita hanya bisa berharap agar rakyat, yang hanya sedikit yang menyadari bahwa sebagus dan semenarik apapun sebuah iklan itu hanyalah sebuah image, yang tidak menunjukkan kerja nyata sebuah partai, presiden ataupun legislatif.

(PIP, 2008)

1 komentar: