Jumat, 27 Maret 2009

KRISIS

Panik itu mungkin yang dirasakan banyak orang, ketika tiba-tiba harga saham ambruk dan mendadak orang-orang jatuh miskin. Bahkan tidak sedikit yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Masa gelap ini dikenal dengan Zaman Malaise, zaman itu merupakan sisi gelap sejarah kapitalisme Amerika. Masa ketika orang-orang mendadak miskin dan kematian menjemput dimana-mana.

Keruntuhan harga saham di New York ini seperti epidemi yang datang menyergap orang tanpa persiapan. Mengapa kiris yang dahsyat itu bisa menyergap Amerika? Krisis yang terjadi justru pada era di tahun 1929 dimana kemakmuran tengah mencapai sempurna.

Menjelang tahun 1929 ekonomi Amerika maju pesat, lapangan kerja terbuka lebar dengan tingkat pengangguran hanya 3%. Presiden Herbert Hoover pada November 1928 berkata dengan suara cerah Amerika hari ini, sedang mendekati saat kemenangan terkahir melawan kemiskinan, yang belum pernah dialami dalam sejarah oleh negara manapun.

Dekade 20-an merupakan tahun kerja keras bagi masyarakat Amerika, portofolio memasuki puncak kejayaannya. Kartunis Larry Gonnick mengatakan, bursa saham bergejolak layaknya pertunjukan solo Louis Amstrong. Sedikitnya 10 juta orang ikut dalam pasar saham, yang menurut sejarawan ekonomi Robert Heilbroner demam spekulasi untuk segera menjadi kaya melalui pasar modal memang tengah menjangkiti rakyat Amerika. Hingga pada 24 Oktober 1929 di Wall Street tiba-tiba harga saham terjun bebas. Panik menyergap lantai bursa yang sudah berusia satu abad. Hampir semua orang secara serentak melepas sahamnya, akibatnya rush diperbankan terjadi.

Runtuhkan kapitalisme..?

Tidak. Lima tahun setelah krisis terjadi pendapatan nasional Amerika turun 50%, investasi turun hingga negatif, pengangguran membengkak menjadi 33,3%, sebanyak 11.000 bank dilikuidasi.

Belakangan kapitalis Amerika berhasil bangkit dari keterpurukan yang panjang, dan mereka mengulang cara yang sama, yaitu mengedepankan aspek kompetisi bebas dan sekedar mengjejar keuntungan semata ketimbang kesejahteraan bersama. Hingga sekarang krisis tersebut menyergap lagi dengan efek yang lebih luas.

Ketika tahun 1929 ekonomi runtuh karena maraknya investasi di pasar saham yang tidak rasional, kini keselahan juga terulang. Kapitalisme kembali ambruk akibat bisnis derivatif, sebuah bisnis maya yang mencapai transaksi US$ 750 triliun setahun, namun itu hanyalah sebuah gelembung sabun (buble economic) masih ada lagi gelembung-gelembung lain yang bisa meletus kapan saja.


Apakah kita akan terus mengikuti sistem kapitalis....?

(PIP, 2008)

FILM

Akhirnya sang komedian menuju Gedung Putih, komentar dari media massa menyambut kemenangan Tom Dobbs dalam pemilihan presiden Amerika. Ia menyingkirkan para kandidat dari dua partai utama Demokrat dan Republik.

Aku muak dengan partai Demokrat dan partai Republik, mereka cuma tukang bohong, tukang menghabiskan uang rakyat, tukas Dobbs lucu. Ia secara Independen mencalonkan diri sebagai presiden. Dan Dobbs memenangkan kuris presiden. Bukan lantaran penghitungan suara yang salah tetapi karena rakyat sudah jenuh dengan janji-janji bohong partai.

Tokoh bernama Dobbs merupakan kisah rekaan film produksi Hollywood yang dimainkan oleh Robin Williams, yang berjudul Man of The Year produksi Morgan Creek tahun 2006. Film tersebut berhasil mengajak penontonnya untuk berpikir merdeka dan kritis, bahwa untuk berubah dan membangun mimpi masa depan kadang orang harus bersedia keluar dari zona aman (comfort zone).

Dobbs yang setelah menjadi presiden kemudian memilih mundur karena sebagai pelawak ia memilih menjalankan tugas menghibur publik. Lantas apa bedanya dengan tugas seorang presiden? Film ini tidak menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi sebagai sebuah film, telah berhasil mempertontonkan antara nafsu untuk berkuasa dan tuntutan dengan suara hati. Ini merupakan sebuah kritik tentang orang yang ingin meraih kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.

Minggu ini saya melihat berita seorang caleg berkampanye dengan memberikan pijat gratis kepada masyarakat karena dia mampu dalam pengobatan melalui pemijatan, aku jadi bertanya dalam hati kenapa dia tidak menjadi dukun pijat atau paranormal seperti ponari? Mungkin itu akan lebih bermanfaat bagi rakyat banyak. Dan banyak lagi kampanye para caleg yang tidak sesuai dengan substansinya.

Mungkin sebaiknya semua caleg ataupun capres untuk sebaiknya menonton film ini, agar menjadi perhatian dan pembelajaran. Agar bisa mengukur antara keahlian individu dengan tugas sebagai seorang legislatif ataupun presiden.

(PIP, 2008)

PRASANGKA

Prasangka bisa menjadi best seller. Di New York, Malcolm Gladwell mencetak nama besar ketika membuat buku dengan judul Blink. Ia menjustifikasi prasangka sebagai salah satu keunggulan berpikir. Seseorang bisa mengambil keputusan yang benar dalam sekejap karena adanya pemahaman sekejap (rapid cognition). Tetapi ia juga mengingatkan agar tidak mudah percaya pada penilaian atau pandangan sekejap.


Tidak jelas apa yang ditulis Gladwell, di satu sisi ia memuji kehebatan rapid cognition, tetapi pada bab lain ia megecap betapa besar bahaya yang bisa timbil dari rapid cognition.

Tahun 1920, rakyat Amerika melakukan kesalahan fatal dengan memilih presiden yang salah. Warren Harding waktu itu terpilih menjadi presiden karena ia tinggi, gagah dan tampan. Hal itu seperti menyiratkan kesimpulan bahwa Harding tipe orang yang pemberani, cerdas dan punya prinsip murah yang kuat. Ternyata mereka salah.... Harding tak lebih dari seorang pemabuk, hobi bermain judi dan memanfaatkan ketampanannya untuk memikat perempuan. Harding tercatat sebagai presiden Amerika paling buruk dalam sejarah.


Bagaimana prasangka masyarakat terhadap partai politik yang berkampanye akhir-akhir ini..? Semoga rakyat tidak salah dalam memilih partai maupun presiden, dan legislatif dengan memilih berdasarkan penampilan luar, hadiah yang diberikan, maupun dengan janji-janji kampanye yang manis, tetapi lebih kepada pengetahuan bahwa mereka bisa memimpin negeri ini menuju yang lebih baik. Amin

IKLAN – KAMPANYE

Iklan adalah sebuah sarana paling ampuh untuk memikat konsumen, walaupun dengan biaya yang mahal. Setiap hari serbuan iklan melanda ke dalam setiap rumah kita, lewat berbagai media masa.

Berdasarkan data dari Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) bahwa belanja iklan secara kotor mencapai Rp 37 trilian setiap tahun. Data AC Nielsen menyebutkan belanja iklan di media massa Indonesia pada semester pertama tahun 2008 mencapai Rp 19,56 triliun naik 24% dari tahun 2007.

Minat partai politik untuk beriklan pada era sekarang ini sangat marak. Iklan menjadi salah satu mesin politik melalui strategi marketing yang tepat. Kasus di Amerika bisa menjadi contoh, kampanye George W Bush pada 1992 yang incubent kala itu, memutar iklan yang mengeksploitasi peristiwa 11 Septe mber 2001. Dalam spot iklan 30 detik seharga $ 4.5 juta, Bush mengatakan, AS akan ambruk jika tak punya pemimpin yang kuat. Iklan diakhiri dengan tulisan Safer, Stronger, President Bush, Steady Leadership in Time of Change

Di Indonesia Megawati memasang iklan dengan janji menurunkan sembako dalam masa 100 hari kepemimpinnya nanti. Partai Keadilan Sejahtera memasang foto mantan presiden Soeharto sebagai salah seorang guru bangsa. Partai Hanura mencuri simpati rakyat dengan mengekspose kegagalan pemerintah dalam mengatasi angka kemiskinan dan pengangguran. Partai baru yang muncul Gerindra, sukses menjual “kemiskinan” ekonomi petani dan nelayan.

Lembaga Survei Indonesia mencatat Gerindra yang paling gencar beriklan di televisi berhasil mengusung nama Prabowo Subianto dalam deretan empat besar capres sebesar 4% setelah Susilo Bambang Yudoyono (32%), Megawati (24%), dan Wiranto (6%).

Apakah dengan dana iklan yang besar itu bisa mengantar mereka ke kursi presiden.... belum pasti. Tetapi kampanye presiden melalui media massa, terutama televisi diyakini sebagai media paling ampuh menjangkau lapisan masyarakat.

Kita hanya bisa berharap agar rakyat, yang hanya sedikit yang menyadari bahwa sebagus dan semenarik apapun sebuah iklan itu hanyalah sebuah image, yang tidak menunjukkan kerja nyata sebuah partai, presiden ataupun legislatif.

(PIP, 2008)