Panik itu mungkin yang dirasakan banyak orang, ketika tiba-tiba harga saham ambruk dan mendadak orang-orang jatuh miskin. Bahkan tidak sedikit yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Masa gelap ini dikenal dengan Zaman Malaise, zaman itu merupakan sisi gelap sejarah kapitalisme Amerika. Masa ketika orang-orang mendadak miskin dan kematian menjemput dimana-mana.
Keruntuhan harga saham di New York ini seperti epidemi yang datang menyergap orang tanpa persiapan. Mengapa kiris yang dahsyat itu bisa menyergap Amerika? Krisis yang terjadi justru pada era di tahun 1929 dimana kemakmuran tengah mencapai sempurna.
Menjelang tahun 1929 ekonomi Amerika maju pesat, lapangan kerja terbuka lebar dengan tingkat pengangguran hanya 3%. Presiden Herbert Hoover pada November 1928 berkata dengan suara cerah “Amerika hari ini, sedang mendekati saat kemenangan terkahir melawan kemiskinan, yang belum pernah dialami dalam sejarah oleh negara manapun”.
Dekade 20-an merupakan tahun kerja keras bagi masyarakat Amerika, portofolio memasuki puncak kejayaannya. Kartunis Larry Gonnick mengatakan, bursa saham bergejolak layaknya pertunjukan solo Louis Amstrong. Sedikitnya 10 juta orang ikut dalam pasar saham, yang menurut sejarawan ekonomi Robert Heilbroner demam spekulasi untuk segera menjadi kaya melalui pasar modal memang tengah menjangkiti rakyat Amerika. Hingga pada 24 Oktober 1929 di Wall Street tiba-tiba harga saham terjun bebas. Panik menyergap lantai bursa yang sudah berusia satu abad. Hampir semua orang secara serentak melepas sahamnya, akibatnya rush diperbankan terjadi.
Runtuhkan kapitalisme..?
Tidak. Lima tahun setelah krisis terjadi pendapatan nasional Amerika turun 50%, investasi turun hingga negatif, pengangguran membengkak menjadi 33,3%, sebanyak 11.000 bank dilikuidasi.
Belakangan kapitalis Amerika berhasil bangkit dari keterpurukan yang panjang, dan mereka mengulang cara yang sama, yaitu mengedepankan aspek kompetisi bebas dan sekedar mengjejar keuntungan semata ketimbang kesejahteraan bersama. Hingga sekarang krisis tersebut menyergap lagi dengan efek yang lebih luas.
Ketika tahun 1929 ekonomi runtuh karena maraknya investasi di pasar saham yang tidak rasional, kini keselahan juga terulang. Kapitalisme kembali ambruk akibat bisnis derivatif, sebuah bisnis maya yang mencapai transaksi US$ 750 triliun setahun, namun itu hanyalah sebuah gelembung sabun (buble economic) masih ada lagi gelembung-gelembung lain yang bisa meletus kapan saja.
Apakah kita akan terus mengikuti sistem kapitalis....?
(PIP, 2008)
